Berita

Prediksi Visibilitas Hilal Awal Syawal 1435 H/2014 M

diposting oleh Judhistira Aria Utama | Rabu, 23 Juli 2014 | 13:22:54 | dibaca 3305

PREDIKSI VISIBILITAS HILAL PENENTU AWAL SYAWAL 1435 H/2014 M

Judhistira Aria Utama, M.Si.

Laboratorium Bumi dan Antariksa

Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan MIPA, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

PIC Simpul UPI, Konsorsium Pengamatan Hilal Nasional

 

Visibilitas atau kenampakan hilal (Bulan sabit muda yang berhasil diamati pertama kali pascaterbenamnya Matahari) dipengaruhi oleh beragam faktor. Pada mulanya, faktor konfigurasi posisi ketiga benda langit terkait (yaitu Matahari–Bumi–Bulan) seperti elongasi, beda tinggi, dan beda azimut digunakan sebagai prediktor visibilitas. Alih-alih hanya mempertimbangkan konfigurasi geometri, dalam studi fotometri hilal telah pula turut diperhitungkan pengaruh atmosfer dan sensitifitas alat optik (termasuk mata) yang digunakan.

Mengadopsi model matematis visibilitas untuk objek-objek langit yang berada di dekat Matahari dari Kastner (1976), telah diperoleh prediksi visibilitas hilal penentu awal Syawal 1435 H/2014 M. Prediksi diberikan untuk visibilitas hilal pada hari Minggu 27 Juli (29 Ramadan 1435 H) yang bertepatan dengan hari terjadinya konjungsi dalam modus pengamatan dengan mata telanjang (Gambar 1) dan berbantuan teleskop (Gambar 2). Dalam perhitungan modus pengamatan berbantuan teleskop ini disertakan pula sejumlah faktor koreksi teleskopik yang relevan dengan mengacu kepada hasil-hasil dalam Schaefer (1990). Dalam perhitungan yang dilakukan dengan kedua modus pengamatan di atas, diasumsikan kondisi atmosfer setempat yang  bersih untuk lokasi pengamat di Bandung (koordinat geografis: 6,86° Lintang Selatan; 107,59° Bujur Timur di ketinggian 968 m dari permukaan laut) dengan pengaturan toposentrik (pengamat di permukaan Bumi) dan memperhitungkan faktor pembiasan oleh atmosfer. Prediksi yang dihasilkan ditampilkan dalam bentuk grafik visibilitas terhadap waktu (Gambar 1 dan 2). Bila fungsi visibilitas bernilai positif, berarti kecerahan hilal pada saat tersebut telah melampaui kecerahan langit senja, yang dimaknai bahwa hilal berpeluang untuk dapat diamati selama kondisi cuaca mendukung. Sebaliknya, manakala fungsi visibilitas bernilai negatif, hal ini berarti hilal lebih redup dibandingkan kecerahan langit senja sehingga membuatnya tidak akan dapat diamati.

Dari posisi pengamat di Bandung, dalam kasus awal Syawal, Bulan akan menyusul Matahari tenggelam ke bawah horison dalam waktu 17 menit sejak Sang Surya terbenam. Berdasarkan Gambar 1, visibilitas hilal bernilai negatif sejak terbenamnya Matahari hingga waktu terbenamnya Bulan. Hal ini berarti bahwa pengamatan hilal penentu awal Syawal dengan hanya menggunakan mata telanjang, dipastikan tidak akan berhasil mengesani sosok hilal. Nilai-nilai parameter fisis Bulan pada hari terjadinya konjungsi saat Matahari terbenam waktu setempat di sebagian wilayah Indonesia ditampilkan dalam Tabel 1.

Dari Gambar 2 terlihat bahwa dalam pengamatan dengan bantuan teleskop, visibilitas hilal awal Syawal bernilai positif setelah Matahari terbenam. Hal ini berarti bahwa hilal diprediksikan dapat diamati dengan bantuan teleskop dengan spesifikasi seperti disebutkan di atas sejak saat Matahari terbenam hingga 15 menit kemudian.    

Keputusan bilakah jatuhnya tanggal 1 Syawal 1435 baru akan ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Agama dalam sidang yang dipimpin oleh menteri agama yang dilakukan pada 29 Ramadan 1435 H (Minggu 27 Juli 2014) setelah menghimpun dan mempertimbangkan hasil-hasil hisab (perhitungan model matematis) dan rukyat (pengamatan) serta saran dan pendapat dari para peserta sidang yang terdiri atas ulama, perwakilan organisasi Islam, anggota Tim Hisab Rukyat (THR), dan perwakilan negara–negara sahabat. Selama ini Pemerintah RI melalui Kementerian Agama menganut kriteria imkan rukyat (kriteria yang mengakomodasi metode hisab dan rukyat sekaligus), yang memiliki klausul:

“pada saat Matahari terbenam ketinggian minimal Bulan dari cakrawala sebesar 20 dan elongasi antara Bulan dan Matahari minimal 30 atau umur Bulan sejak konjungsi setidaknya 8 jam”.

Dengan demikian, besar kemungkinan keputusan yang akan dihasilkan menetapkan tanggal 1 Syawal 1435 H jatuh pada 27 Juli 2014 setelah Matahari terbenam mengingat parameter fisis Bulan pada saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia sudah melampaui nilai-nilai minimal tersebut di atas (Tabel 1). Dengan demikian, umat Islam Indonesia yang mengikuti ketetapan pemerintah akan mengakhiri ibadah puasa Ramadan tahun ini pada Minggu 27 Juli 2014 saat magrib dan merayakan Idul Fitri pada keesokan harinya, Senin 28 Juli 2014.